Budaya dan Teknologi
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang
paling sempurna, dengan diberi kelebihan berupa anugrah akal dan pikiran.
Dengan kelebihan itu, manusia menggunakannya untuk menciptakan karya yang
berguna bagi kelangsungan hidupnya. Kita biasanya menyebutnya sebagai budaya,
yang merupakan hasil cipta, karsa, rasa manusia, sehingga menciptakan unsur dan
wujud kebudayaan itu sendiri. Unsur dan Wujud kebudayaan tersebut
sebagai bukti jika manusia menggunakan dan memaksimalkan kelebihan yang
diberikaTuhan kepadanya.
Dewasa ini perkembangan pemikiran manusia telah melesat jauh
lebih maju dari masa ke masa, sehingga kebudayaan yang dihasilkan memiliki
kemajuan dan perubahan kearah yang lebih maju sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan manusia untuk menciptakannya. Abad ke dua puluh merupakan kelanjutan
babak dimana manusia menciptakan berbagai macam teknologi canggih yang dahulu
memang sudah ada namun belum secanggih saat ini. Teknologi ini merupakan bagian
dari kebudayaan manusia, karena merupakan hasil dari cipta, karsa, rasa manusia
itu sendiri.
Bagaimana teknologi yang berkembang maju didalam kehidupan
manusia saat ini membuat peruabahan dalam kehidupan manusia, perubahan yang
diharapkan namun juga tidak diharapkan, dengan adanya teknologi yang semakin
canggih, sudah barang tentu terdapat konsekuensi-konsekuensi yang harus
diterima oleh manusia, terlebih masyarakat Indonesia yang notabene
nya kebudayaan yang dimiliki masih banyak yang bersifat tradisional. Hal ini
sangat menarik untuk dikaji oleh sosiolog yang memiliki peran sentral dalam
melihat fenomena kehidupan yang ada di masyarakat. Sehingga dengan mengkaji hal
semacam ini, membuka jendela dunia kehidupan masyarakat saat ini yang
bergelimang dengan kecanggihan teknologi.Teknologi
Konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara
akademis dapatlah dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan (body of knowledge), dan
teknologi sebagai suatu seni (state of art) yang mengandung pengertian
berhubungan dengan proses produksi, menyangkut cara bagaimana berbagai sumber,
tanah, modal, tenaga kerja, dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi
tujuan produksi. “secara konvensional mencakup penguasaan dunia fisik dan
biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial, terutama teknologi
sosial pembangunan (the social technology of development) sehingga teknologi
itu adalah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani” (Eugene
Staley, 1970).
Dari batasan di atas jelas, bahwa teknologi sosial
pembangunan memerlukan semua science dan teknologi untuk dipertemukan
dalam menunjang tujuan-tujuan pembangunan, misalnya perencanaan dan programing
pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan
sumber-sumber insani (tenaga kerja, pendidikan dan latihan), dan teknik
pembangunan khusus dalam sektor-sektor seperti pertanian, industri, dan
kesehatan.
Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat
sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan
manusia menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “ The
Technological Society” (1964) tidak mengatakan teknologi tetapi teknik,
meskipun arti atau maksudnya sama. Menurut Ellul istilah teknik digunakan tidak
hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan
totalitas metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiendi (untuk
memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Batasan
ini bukan bentuk teoritis, melainkan perolehan dan aktivitas masing-masing dan
observasi fakta dari apa yang disebut manusia modern dengan perlengkapan
tekniknya. Jadi teknik menurut Ullel adalah berbagai usaha, metode
dan cara untuk memperoleh hasil yang sudah distandarisasi dan diperhitungkan
sebelumnya (Munandar, 2009 : 216).
Teknologi yang berkembang dengan pesat, meliputi berbagai
bidang kehidupan manusia. Maka sekarang nampaknya sulit memisahkan kehidupan
manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Awal
perkembangan teknik yang sebelumnya merupakan bagian dari ilmu atau bergantung
dari ilmu, sekarang ilmu dapat pula bergantung pari teknik.contohnya dengan
berkembang pesatnya teknologi komputer dan teknologi satelit ruang angkasa,
maka diperoleh pengetahuan baru dari hasil kerja kedua produk teknologi
tersebut.Teknik telah menguasai seluruh sektor kehidupan manusia, manusia
semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi
manusia yang bebas dari pengaruh teknik. Pada masyarakat teknologi, ada
tendensi bahwa kemajuan adalah suatu proses dehumanisasi secara perlahan-lahan
sampai akhirnya manusia takluk pada teknik (Munandar, 2009: 218).
Keterkaitan antara Budaya dan
Teknologi Teknologi Sebagai Produk Budaya
Isinya dimulai dengan sejarah perkembangan manusia yang
masih bergantung pada alam sampai mulai dapat memanfaatkan alam untuk menunjang
kebutuhan hidup. Dalam kerangka iptek yang merakyat, buku itu menyebutkan bahwa
manusia harus secepatnya mewujudkan mapannya masyarakat berbasis pengetahuan,
manusia yang melek iptek dan siap menggunakan kemudahan yang tersedia untuk
keperluan perekonomiannya. Kalau sains masih bisa diletakan dalam sebuah
wilayah bebas-nilai (meski sampai saat ini masih banyak perdebatan mengenai
sains yang bebas nilai), maka tak begitu halnya dengan teknologi. Teknologi (techne=cara
dan logos=pikiran) merupakan hasil dari proses berpikir manusia. Artinya
teknologi merupakan hasil kebudayaan, yang dalam proses pembuatannya melibatkan
ideologi, nilai-nilai dan pesan-pesan tertentu.
Sms misalnya, dalam budaya yang tingkat literernya cukup
tinggi mampu menghemat biaya pulsa, namun ketika diterapkan dalam masyarakat
tertentu malah dijadikan sarana baru untuk mengobrol. Hasilnya, sms malah
menjadi sumber pemborosan baru. Salah satu kisah lain yang menarik adalah
sebuah daerah yang penduduknya mayoritas bekerja sebagai TKW, dikisahkan bahwa
rumah mereka bagus-bagus, didalamnya ada kulkas, televisi dll. Tapi kulkas
tersebut tidak dimanfaatkan untuk menyimpan makanan yang cepat busuk melainkan
sebagai tempat menyimpan baju.
Dalam hal ini teknologi hanya menjadi sebuah alat baru untuk
menentukan kelas seseorang. Dalam kacamata materialisme, aspek materi menjadi
dasar dari sebuah bangunan sedangkan aspek non-materi menjadi bangunan yang ada
diatasnya. Artinya dasar bangunan secara mutlak akan mempengaruhi bangunan
diatasnya, namun tidak berlaku sebaliknya. Pada kasus penerapan teknologi
tinggi (high tech), masyarakat di desa akan menyesuaikan diri dengan
keberadaan teknologi tersebut. Hal ini akan berbeda keadaannya jika teknologi
tersebut merupakan hasil dari proses berpikir masyarakat tersebut. Teknologi
yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan dan masyarakat tidak akan menganut
ideologi asing yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di suatu
daerah.
Beberapa ciri manusia modern menurut Inkeles dan
Smith dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga adalah memiliki keterbukaan
terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan,
punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa mengendalikan alam
dan bukan sebaliknya. Hal ini terlihat dari teknologi-teknologi tinggi karya
manusia modern yang pada umumnya memiliki sistem kontrol untuk menegaskan
kekuasaan manusia. Adanya dikotomi manusia modern dan manusia
tradisional–sebagai lawan dari manusia modern juga berdampak dari gaya hidup
kedua kelompok tersebut. Teknologi sebagai buah budaya manusia modern secara
langsung memiliki sifat sama dengan manusia modern.
Nilai-nilai yang berbeda inilah yang pada umumnya tidak
disadari, sehingga ketika suatu teknologi diimport atau digunakan oleh manusia
tradisional ada beberapa kemungkinan konflik. Pertama, teknologi tersebut
ditolak, sebagaimana yang seringkali dialami oleh peneliti yang melakukan
pengawasan langsung ke daerah-daerah. Selama masa pendampingan, teknologi
tersebut dapat bekerja dengan baik. Namun ketika dilepas, mereka kembali pada
cara-cara konvensional. Kemungkinan kedua, adalah masyarakat tradisional
benar-benar bergantung pada teknologi tersebut dan menerima semua perubahan
tersebut dengan kepercayaan mutlak. Akibatnya teknologi tersebut mencabut
mereka dari akar budaya yang telah ada sebelumnya (cenderung terjadi di
bidang consumer technologies).
Oleh karena itu, ada satu hal yang tidak bisa dilupakan
adalah tujuan dari pembuatan teknologi tersebut, apakah teknologi dibuat dengan
spesifikasi khusus sesuai dengan kultur budaya masyarakat tertentu atau ia
bersifat nir-ruang. Sebagai produk budaya, tentu teknologi tak dapat bersifat
nir-ruang. Solusi yang paling mungkin adalah proses adaptasi, sehingga
nilai-nilai yang dibawa oleh teknologi tersebut dapat disaring dan dimanfaatkan
semaksimal mungkin pada daerah baru (daerah yang mengimpor teknologi tersebut).
Penerapan teknologi terkait langsung dengan perkembangan
industri dan juga militer. Artinya, kemajuan teknologi secara tidak langsung
juga bisa dilihat dari kemajuan suatu negara. Hubungan ini bisa disederhanakan
dengan membagi negara-negara di dunia menjadi dua kubu besar, yaitu negara maju
dan negara terbelakang. Negara maju dengan pembagian kerja secara internasional
(negara-negara industri dan negara-negara pertanian) berperan sebagai negara
industri sedangkan negara terbelakang pada umumnya masuk dalam kelompok negara
pertanian. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi,
pembagian kerja ini mengarah pada berkurangnya pendapatan negara-negara
pertanian sedangkan kebutuhan belanja barang-barang industri cenderung naik.
Sementara teknologi memungkinkan manusia untuk mengembangkan
lebih cara-cara yang konstruktif untuk terlibat dengan dunia juga memperluas
kapasitas untuk dominasi apakah itu sifat atau hanya mereka yang berbeda.
Teknologi dapat memungkinkan kita untuk menyadari kebutuhan kita namun juga
dapat merekonstruksi kebutuhan tersebut sehingga kemajuan terhadap aspirasi
manusia mewujudkan diri dalam paradigma.
Pergeseran Budaya dan Teknologi
Globalisasi merupakan suatu tatanan mendunia yang tercipta
akibat adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga unsur-unsur
budaya suatu kelompok masyarakat bisa dikenal dan diterima oleh kelompok
masyarakat lainnya. Adanya pertukaran unsur-unsur budaya karena globalisasi ini
mengakibatkan dampak-dampak yang besar bagi masyarakat. Globalisasi merupakan
suatu gejala terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi yang mengikuti
sistem nilai dan kaidah yang sama antara masyarakat di seluruh dunia karena
adanya kemajuan transportasi dan komunikasi sehingga memperlancar interaksi
antar warga dunia. Dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang bisa merubah
semuanya untuk lebih baik dan terarah.
Lewat terjadinya proses globalisasi ini, perubahan yang
paling jelas terlihat adalah perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) . Tentunya pesatnya perubahan dalam bidang TIK ini pun membawa
banyak perubahan budaya bagi masyarakat, karena dengan menggunakan media ini
banyak hal yang dapat kita lakukan dan lebih banyak sumber ilmu pengetahuan
yang dapat kita akses. Meskipun tentunya disertai dengan berbagai pengaruh
negatif yang termasuk didalamnya.
Teknologi dan Informatika (TIK) adalah bagian dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), yang merupakan suatu media
atau alat bantu khususnya dalam dunia pendidikan yang mempermudah mengakses
informasi dan merangsang siswa untuk belajar. Ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang
lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Pendidikan
serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai kaitan yang erat seperti
diketahui bahwa iptek menjadi bagian utama dalam isi pendidikan. Dengan kata
lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan perkembangan iptek.
Dampak Pergeseran Budaya
Pengaruh Positif
Perkembangan teknologi tak pelak juga memengaruhi
kebudayaan. Kebudayaan dan industrinya tertuang antara lain melalui pasar maya.
Pengaruh positif yang dapat pula dirasakan dengan adanya adalah peningkatan
kecepatan, ketepatan, dan kemudahan yang memberikan efisiensi waktu, tenaga dan
biaya. Sebagai contohnya yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman
surat hanya memerlukan waktu singkat, karena kehadiran surat elektronis
(email), ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya
komputasi numeris, pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan
dengan mudah yaitu dengan basis data (database), sejak internet begitu mudah
diakses, maka beberapa pelaku industri budaya memercayakan proses industri
seperti produksi, promosi, distribusi, dan transaksi melalui jalur maya ini.
Pengaruh Negatif
Sedangkan pengaruh negatif adalah teknologi informasi
mempunyai daya tarik tersendiri yang bisa membuat manusia lupa akan dirinya
sendiri. Seperti lewat game, jejaring sosial dan pornografi. Yang paling hangat
dalam ingatan kita tentunya kasus penculikan dan perkosaan yang dilakukan oleh
pelajar beberapa waktu lalu yang justru dilakukan setelah pada mulanya
berkenalan lewat media teknologi jejaring sosial online facebook. Dalam
pengiriman ucapan selamat dan lainnya via ponsel maupun E-mail, satu hal yang
dapat dirasakan, kini tak ada lagi yang namanya rasa kehangatan ataupun
perasaan menunggu-nunggu kiriman surat dari sang kekasih atau orang yang
dicintai, karena dalam waktu sekian menitpun pasti akan ada jawabannya.
Pergeseran akibat teknologipun sedikit demi sedikit mampu mengikis rasa
kehangatan dan kekeluargaan yang ada dalam kekerabatan sekaligus pula
mempermudah komunikasi tanpa jangka waktu yang lama.
Kesimpulan
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan
serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Teknologi sebagai suatu seni (state of art) yang mengandung
pengertian berhubungan dengan proses produksi, menyangkut cara bagaimana
berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja, dan keterampilan dikombinasikan
untuk merealisasi tujuan produksi. “secara konvensional mencakup penguasaan
dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial,
terutama teknologi sosial pembangunan (the social technology of development)
sehingga teknologi itu adalah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan
insani”.
Semoga Bermanfaat ^_^
Sumber : https://sosiologibudaya.wordpress.com/2012/05/28/budaya-dan-teknologi-2/Budaya dan Teknologi
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang
paling sempurna, dengan diberi kelebihan berupa anugrah akal dan pikiran.
Dengan kelebihan itu, manusia menggunakannya untuk menciptakan karya yang
berguna bagi kelangsungan hidupnya. Kita biasanya menyebutnya sebagai budaya,
yang merupakan hasil cipta, karsa, rasa manusia, sehingga menciptakan unsur dan
wujud kebudayaan itu sendiri. Unsur dan Wujud kebudayaan tersebut
sebagai bukti jika manusia menggunakan dan memaksimalkan kelebihan yang
diberikaTuhan kepadanya.
Dewasa ini perkembangan pemikiran manusia telah melesat jauh
lebih maju dari masa ke masa, sehingga kebudayaan yang dihasilkan memiliki
kemajuan dan perubahan kearah yang lebih maju sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan manusia untuk menciptakannya. Abad ke dua puluh merupakan kelanjutan
babak dimana manusia menciptakan berbagai macam teknologi canggih yang dahulu
memang sudah ada namun belum secanggih saat ini. Teknologi ini merupakan bagian
dari kebudayaan manusia, karena merupakan hasil dari cipta, karsa, rasa manusia
itu sendiri.
Bagaimana teknologi yang berkembang maju didalam kehidupan
manusia saat ini membuat peruabahan dalam kehidupan manusia, perubahan yang
diharapkan namun juga tidak diharapkan, dengan adanya teknologi yang semakin
canggih, sudah barang tentu terdapat konsekuensi-konsekuensi yang harus
diterima oleh manusia, terlebih masyarakat Indonesia yang notabene
nya kebudayaan yang dimiliki masih banyak yang bersifat tradisional. Hal ini
sangat menarik untuk dikaji oleh sosiolog yang memiliki peran sentral dalam
melihat fenomena kehidupan yang ada di masyarakat. Sehingga dengan mengkaji hal
semacam ini, membuka jendela dunia kehidupan masyarakat saat ini yang
bergelimang dengan kecanggihan teknologi.Teknologi
Konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara
akademis dapatlah dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan (body of knowledge), dan
teknologi sebagai suatu seni (state of art) yang mengandung pengertian
berhubungan dengan proses produksi, menyangkut cara bagaimana berbagai sumber,
tanah, modal, tenaga kerja, dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi
tujuan produksi. “secara konvensional mencakup penguasaan dunia fisik dan
biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial, terutama teknologi
sosial pembangunan (the social technology of development) sehingga teknologi
itu adalah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani” (Eugene
Staley, 1970).
Dari batasan di atas jelas, bahwa teknologi sosial
pembangunan memerlukan semua science dan teknologi untuk dipertemukan
dalam menunjang tujuan-tujuan pembangunan, misalnya perencanaan dan programing
pembangunan, organisasi pemerintah dan administrasi negara untuk pembangunan
sumber-sumber insani (tenaga kerja, pendidikan dan latihan), dan teknik
pembangunan khusus dalam sektor-sektor seperti pertanian, industri, dan
kesehatan.
Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat
sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan
manusia menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “ The
Technological Society” (1964) tidak mengatakan teknologi tetapi teknik,
meskipun arti atau maksudnya sama. Menurut Ellul istilah teknik digunakan tidak
hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan
totalitas metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiendi (untuk
memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Batasan
ini bukan bentuk teoritis, melainkan perolehan dan aktivitas masing-masing dan
observasi fakta dari apa yang disebut manusia modern dengan perlengkapan
tekniknya. Jadi teknik menurut Ullel adalah berbagai usaha, metode
dan cara untuk memperoleh hasil yang sudah distandarisasi dan diperhitungkan
sebelumnya (Munandar, 2009 : 216).
Teknologi yang berkembang dengan pesat, meliputi berbagai
bidang kehidupan manusia. Maka sekarang nampaknya sulit memisahkan kehidupan
manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Awal
perkembangan teknik yang sebelumnya merupakan bagian dari ilmu atau bergantung
dari ilmu, sekarang ilmu dapat pula bergantung pari teknik.contohnya dengan
berkembang pesatnya teknologi komputer dan teknologi satelit ruang angkasa,
maka diperoleh pengetahuan baru dari hasil kerja kedua produk teknologi
tersebut.Teknik telah menguasai seluruh sektor kehidupan manusia, manusia
semakin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi
manusia yang bebas dari pengaruh teknik. Pada masyarakat teknologi, ada
tendensi bahwa kemajuan adalah suatu proses dehumanisasi secara perlahan-lahan
sampai akhirnya manusia takluk pada teknik (Munandar, 2009: 218).
Keterkaitan antara Budaya dan
Teknologi Teknologi Sebagai Produk Budaya
Isinya dimulai dengan sejarah perkembangan manusia yang
masih bergantung pada alam sampai mulai dapat memanfaatkan alam untuk menunjang
kebutuhan hidup. Dalam kerangka iptek yang merakyat, buku itu menyebutkan bahwa
manusia harus secepatnya mewujudkan mapannya masyarakat berbasis pengetahuan,
manusia yang melek iptek dan siap menggunakan kemudahan yang tersedia untuk
keperluan perekonomiannya. Kalau sains masih bisa diletakan dalam sebuah
wilayah bebas-nilai (meski sampai saat ini masih banyak perdebatan mengenai
sains yang bebas nilai), maka tak begitu halnya dengan teknologi. Teknologi (techne=cara
dan logos=pikiran) merupakan hasil dari proses berpikir manusia. Artinya
teknologi merupakan hasil kebudayaan, yang dalam proses pembuatannya melibatkan
ideologi, nilai-nilai dan pesan-pesan tertentu.
Sms misalnya, dalam budaya yang tingkat literernya cukup
tinggi mampu menghemat biaya pulsa, namun ketika diterapkan dalam masyarakat
tertentu malah dijadikan sarana baru untuk mengobrol. Hasilnya, sms malah
menjadi sumber pemborosan baru. Salah satu kisah lain yang menarik adalah
sebuah daerah yang penduduknya mayoritas bekerja sebagai TKW, dikisahkan bahwa
rumah mereka bagus-bagus, didalamnya ada kulkas, televisi dll. Tapi kulkas
tersebut tidak dimanfaatkan untuk menyimpan makanan yang cepat busuk melainkan
sebagai tempat menyimpan baju.
Dalam hal ini teknologi hanya menjadi sebuah alat baru untuk
menentukan kelas seseorang. Dalam kacamata materialisme, aspek materi menjadi
dasar dari sebuah bangunan sedangkan aspek non-materi menjadi bangunan yang ada
diatasnya. Artinya dasar bangunan secara mutlak akan mempengaruhi bangunan
diatasnya, namun tidak berlaku sebaliknya. Pada kasus penerapan teknologi
tinggi (high tech), masyarakat di desa akan menyesuaikan diri dengan
keberadaan teknologi tersebut. Hal ini akan berbeda keadaannya jika teknologi
tersebut merupakan hasil dari proses berpikir masyarakat tersebut. Teknologi
yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan dan masyarakat tidak akan menganut
ideologi asing yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di suatu
daerah.
Beberapa ciri manusia modern menurut Inkeles dan
Smith dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga adalah memiliki keterbukaan
terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan,
punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa mengendalikan alam
dan bukan sebaliknya. Hal ini terlihat dari teknologi-teknologi tinggi karya
manusia modern yang pada umumnya memiliki sistem kontrol untuk menegaskan
kekuasaan manusia. Adanya dikotomi manusia modern dan manusia
tradisional–sebagai lawan dari manusia modern juga berdampak dari gaya hidup
kedua kelompok tersebut. Teknologi sebagai buah budaya manusia modern secara
langsung memiliki sifat sama dengan manusia modern.
Nilai-nilai yang berbeda inilah yang pada umumnya tidak
disadari, sehingga ketika suatu teknologi diimport atau digunakan oleh manusia
tradisional ada beberapa kemungkinan konflik. Pertama, teknologi tersebut
ditolak, sebagaimana yang seringkali dialami oleh peneliti yang melakukan
pengawasan langsung ke daerah-daerah. Selama masa pendampingan, teknologi
tersebut dapat bekerja dengan baik. Namun ketika dilepas, mereka kembali pada
cara-cara konvensional. Kemungkinan kedua, adalah masyarakat tradisional
benar-benar bergantung pada teknologi tersebut dan menerima semua perubahan
tersebut dengan kepercayaan mutlak. Akibatnya teknologi tersebut mencabut
mereka dari akar budaya yang telah ada sebelumnya (cenderung terjadi di
bidang consumer technologies).
Oleh karena itu, ada satu hal yang tidak bisa dilupakan
adalah tujuan dari pembuatan teknologi tersebut, apakah teknologi dibuat dengan
spesifikasi khusus sesuai dengan kultur budaya masyarakat tertentu atau ia
bersifat nir-ruang. Sebagai produk budaya, tentu teknologi tak dapat bersifat
nir-ruang. Solusi yang paling mungkin adalah proses adaptasi, sehingga
nilai-nilai yang dibawa oleh teknologi tersebut dapat disaring dan dimanfaatkan
semaksimal mungkin pada daerah baru (daerah yang mengimpor teknologi tersebut).
Penerapan teknologi terkait langsung dengan perkembangan
industri dan juga militer. Artinya, kemajuan teknologi secara tidak langsung
juga bisa dilihat dari kemajuan suatu negara. Hubungan ini bisa disederhanakan
dengan membagi negara-negara di dunia menjadi dua kubu besar, yaitu negara maju
dan negara terbelakang. Negara maju dengan pembagian kerja secara internasional
(negara-negara industri dan negara-negara pertanian) berperan sebagai negara
industri sedangkan negara terbelakang pada umumnya masuk dalam kelompok negara
pertanian. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi,
pembagian kerja ini mengarah pada berkurangnya pendapatan negara-negara
pertanian sedangkan kebutuhan belanja barang-barang industri cenderung naik.
Sementara teknologi memungkinkan manusia untuk mengembangkan
lebih cara-cara yang konstruktif untuk terlibat dengan dunia juga memperluas
kapasitas untuk dominasi apakah itu sifat atau hanya mereka yang berbeda.
Teknologi dapat memungkinkan kita untuk menyadari kebutuhan kita namun juga
dapat merekonstruksi kebutuhan tersebut sehingga kemajuan terhadap aspirasi
manusia mewujudkan diri dalam paradigma.
Pergeseran Budaya dan Teknologi
Globalisasi merupakan suatu tatanan mendunia yang tercipta
akibat adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga unsur-unsur
budaya suatu kelompok masyarakat bisa dikenal dan diterima oleh kelompok
masyarakat lainnya. Adanya pertukaran unsur-unsur budaya karena globalisasi ini
mengakibatkan dampak-dampak yang besar bagi masyarakat. Globalisasi merupakan
suatu gejala terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi yang mengikuti
sistem nilai dan kaidah yang sama antara masyarakat di seluruh dunia karena
adanya kemajuan transportasi dan komunikasi sehingga memperlancar interaksi
antar warga dunia. Dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang bisa merubah
semuanya untuk lebih baik dan terarah.
Lewat terjadinya proses globalisasi ini, perubahan yang
paling jelas terlihat adalah perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) . Tentunya pesatnya perubahan dalam bidang TIK ini pun membawa
banyak perubahan budaya bagi masyarakat, karena dengan menggunakan media ini
banyak hal yang dapat kita lakukan dan lebih banyak sumber ilmu pengetahuan
yang dapat kita akses. Meskipun tentunya disertai dengan berbagai pengaruh
negatif yang termasuk didalamnya.
Teknologi dan Informatika (TIK) adalah bagian dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), yang merupakan suatu media
atau alat bantu khususnya dalam dunia pendidikan yang mempermudah mengakses
informasi dan merangsang siswa untuk belajar. Ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek) merupakan salah satu hasil usaha manusia untuk mencapai kehidupan yang
lebih baik, yang telah dimulai pada permulaan kehidupan manusia. Pendidikan
serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai kaitan yang erat seperti
diketahui bahwa iptek menjadi bagian utama dalam isi pendidikan. Dengan kata
lain pendidikan berperan sangat penting dalam pewarisan dan perkembangan iptek.
Dampak Pergeseran Budaya
Pengaruh Positif
Perkembangan teknologi tak pelak juga memengaruhi
kebudayaan. Kebudayaan dan industrinya tertuang antara lain melalui pasar maya.
Pengaruh positif yang dapat pula dirasakan dengan adanya adalah peningkatan
kecepatan, ketepatan, dan kemudahan yang memberikan efisiensi waktu, tenaga dan
biaya. Sebagai contohnya yang mudah dilihat di sekitar kita adalah pengiriman
surat hanya memerlukan waktu singkat, karena kehadiran surat elektronis
(email), ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan adanya
komputasi numeris, pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa dilakukan
dengan mudah yaitu dengan basis data (database), sejak internet begitu mudah
diakses, maka beberapa pelaku industri budaya memercayakan proses industri
seperti produksi, promosi, distribusi, dan transaksi melalui jalur maya ini.
Pengaruh Negatif
Sedangkan pengaruh negatif adalah teknologi informasi
mempunyai daya tarik tersendiri yang bisa membuat manusia lupa akan dirinya
sendiri. Seperti lewat game, jejaring sosial dan pornografi. Yang paling hangat
dalam ingatan kita tentunya kasus penculikan dan perkosaan yang dilakukan oleh
pelajar beberapa waktu lalu yang justru dilakukan setelah pada mulanya
berkenalan lewat media teknologi jejaring sosial online facebook. Dalam
pengiriman ucapan selamat dan lainnya via ponsel maupun E-mail, satu hal yang
dapat dirasakan, kini tak ada lagi yang namanya rasa kehangatan ataupun
perasaan menunggu-nunggu kiriman surat dari sang kekasih atau orang yang
dicintai, karena dalam waktu sekian menitpun pasti akan ada jawabannya.
Pergeseran akibat teknologipun sedikit demi sedikit mampu mengikis rasa
kehangatan dan kekeluargaan yang ada dalam kekerabatan sekaligus pula
mempermudah komunikasi tanpa jangka waktu yang lama.
Kesimpulan
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan
serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Teknologi sebagai suatu seni (state of art) yang mengandung
pengertian berhubungan dengan proses produksi, menyangkut cara bagaimana
berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja, dan keterampilan dikombinasikan
untuk merealisasi tujuan produksi. “secara konvensional mencakup penguasaan
dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial,
terutama teknologi sosial pembangunan (the social technology of development)
sehingga teknologi itu adalah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan
insani”.
Semoga Bermanfaat ^_^